Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Ayahku pernah bilang,
"Sing penting pinter ndisik, liyane dipikir keri."
(Yang penting pintar dulu, urusan yang lain dipikirkan kemudian)
Kapan manusia bisa pintar??
Ketika manusia merasa sudah pintar
Sebenarnya dia sedang mengidap virus kebodohan
Sebaliknya, semakin banyak membaca, manusia semakin tersadar bahwa dirinya bodoh
Ah, kalau begitu kapan manusia pintar??
Diposting oleh Mesba Label:

Setiap orang, bahkan diri kita mungkin pernah berpikir atau mengatakan,

"Saya tidak bisa melakukannya."

Atau, "Saya tidak mampu."

Pernyataan ini menggambarkan kondisi kita. Pertanyaannya, kondisi kapan? Masa lalu atau masa depan?

Tentu kita mengatakan, "Kondisi kita saat ini, bukan?." Artinya, kita tidak bisa melakukannya saat ini.

Coba kita tanyakan lagi pada diri kita, "Mengapa kita beranggapan kita tidak bisa melakukannya?"

Barangkali diri kita mengatakan, "Memang kemampuanku hanya sebatas ini."

"Kenapa hanya sebatas ini?"

"Inilah hasil belajar dan pengalaman masa lalu."

Okey, pengalaman masa lalu. Jadi, kondisi kita saat mengatakan tidak bisa adalah karena hasil pengalaman masa lalu. Masa lalu dimulai dari detik ini terus ditarik kebelakang.

Coba kita bertanya pada diri kita masing-masing, "Jika kita berusaha lebih giat lagi, adakah perubahan yang akan terjadi kedepan?"

"Mungkin." Mungkin adalah jawaban yang tepat. Sebab kita tidak bisa menebak arah masa depan.

Benar sekali, saat kita mengatakan "Mungkin," berarti ini merupakan starting point bagi kita untuk melakukan perubahan. Setidaknya jawaban mungkin lebih baik ketimbang tidak bisa. Kata mungkin mengindikasikan adanya sebuah harapan, sementara tidak bisa hanya memupus harapan.

Banyak orang yang frustasi saat mereka gagal meraih sesuatu yang diimpikan, lalu ia mengatakan saya tidak bisa melakukannya. Saya heran terhadap orang dewasa, mengapa mereka lebih cepat berfrustasi? Padahal, seharusnya akal orang dewasa lebih matang dan mampu berpikir bijak. Kegagalan adalah hal biasa, namun jangan sampai kegagalan itu memupus harapan kita untuk bangkit. Barangkali, saat seseorang mengalami kegagalan itu berarti memang waktunya belum tepat baginya. Segala yang ada di dunia ini diciptakan melalui proses. Semua ada tahapannya. Al-Qur`an memberitahu kita bahwa Allah swt. menciptakan langit dan bumi dalam jangka enam hari. Mengapa demikian? Bukankah Allah swt. kuasa menciptakan keduanya dalam waktu sekejap? Itu artinya, Allah telah mengajarkan kepada hamba-Nya suatu proses. Hidup kita adalah saat ini dan untuk masa depan, bukan masa lalu. Buang jauh-jauh kata "tidak bisa" dalam kamus hidup kita. Semuanya bisa berubah jika mau berusaha dan tidak pantang menyerah. Kita semuanya pun pernah berhasil membuktikannya sewaktu kita kecil dulu saat kita belajar berjalan. Untuk bisa berjalan, bayi membutuhkan proses, dimulai dari merangkak. Bayangkan, andaikata saat itu kita terjatuh lalu frustasi tidak mau lagi belajar berjalan, maka sampai saat ini pun kita tidak akan bisa berjalan.

Diposting oleh Mesba Label:

Beberapa saat yang lalu, entah karena ada dorongan apa, tiba-tiba saja saya mengambil buku Remembrance waktu SMA dulu. Ah, mungkin itu karena saya terlalu sulit melupakan momen-momen indah yang terjalin selama 3 tahun di asrama dulu kali. Saya kemudian mulai membuka satu persatu lembaran-lembaran buku yang kelihatan lusuh berdebu, sembari mengamati wajah-wajah mereka yang masih lugu-lugu berikut pesan, kesan, dan motto hidup mereka. Ada kata menarik yang saya temukan dalam motto hidup salah satu teman saya. Tidak ada makan siang yang gratis, atau "no free lunch," kira-kira begitu bahasa inggrisnya. Saya tertarik memahami maksud yang tersirat di balik kata-kata yang ditulis temen saya itu. Benar sekali, tidak ada makan siang yang gratis. Ini menandakan untuk mendapatkan makanan pun juga diperlukan sebuah usaha keras dan bersusah payah. Hidup ini tidak akan pernah terlepas dengan yang namanya susah payah. Sebab, susah payah sendiri merupakan kodrat dari diciptakannya manusia. Jadi, sangat mustahil apabila manusia tidak bergesekan dengan susah payah. Bukankah dalam al-Qur`an Allah swt. telah berfirman,

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah." (QS. Al-Balad: 4)

Susah payah itu sudah menjadi kodrat kehidupan manusia. Hidup ini selalu dijalani dengan susah payah, semua perlu usaha. Tidak ada yang gratis, semua perlu kerja, semua perlu usaha, dan semua butuh usaha keras. Jika memang demikian adanya, tidak ada gunanya kita berkeluh kesah. Sebab, keluh kesah hanya akan membiasakan diri kita terpuruk dalam berkeluh kesah selamanya.

Menjadi orang kaya itu susah, menjadi orang miskin juga susah. Sama-sama susahnya mendingan milih menjadi orang kaya. Mengerjakan ketaatan itu susah, melakukan maksiyat pun demikian pula susah. Sama-sama susahnya mendingan milih melakukan ketaatan. Menjadi orang pintar pun harus bersusah payah, orang yang bodoh pun juga merasakan susah payah. Sama-sama merasakan susah payah, mendingan kita menjadi orang yang pintar. Apapun yang kita lakukan di dunia ini pasti disertai dengan susah payah. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bertindak, bergerak, dan beramal.

Seringkali seseorang enggan berdakwah karena alasan dakwah itu susah payah. Seringkali seseorang enggan beramal dan mengerjakan kebajikan dengan alasan mengerjakan kebajikan itu susah. Kalau begitu, apakah jika kita tidak berdakwah atau tidak mau beramal berarti kita tidak merasakan kesusahan? Jangan tergesa-gesa Anda mengatakan, "Ya." Orang yang bermalas-malasan pun juga merasakan kesusahan. Orang yang hendak mencuri, melakukan kejahatan, pun mereka juga merasakan kesusahan. Sama-sama merasakan kesusahan namun hasilnya berbeda. Orang yang bersusah payah untuk mencari kenikmatan akhirat tentu hasil yang diraihnya pun kelak akan berbeda dengan orang yang hanya bersusah payah untuk mencari kenikmatan dunia saja. Sebagai orang yang berakal, pastinya kita bisa mengambil sikap yang bijak dalam menanggapi kedua hal di atas. Dan yang perlu diingat, orang yang bermalas-malasan sebenarnya ia sendiri itu malas untuk berpindah dari kesusahan yang dirasakanya menuju kesusahan lainnya (kesusahan untuk tidak bermalas-malasan). Tapi tunggu dulu, apa pun bentuk kesusahan yang kita rasakan, jika itu disertai dengan niatan lillahi ta'ala, niscaya Allah akan memudahkan setiap langkah-langkah kita. Tetap berjuang, jangan mengeluh di saat-saat kesempitan mendatangi diri kita, dan teruslah melakukan sesuatu yang berguna untuk akhirat kelak.
Diposting oleh Mesba Label:

hadapi dengan senyuman
semua
yang terjadi biar terjadi
hadapi dengan tenang jiwa
semua kan baik-baik saja

bila ketetapan Tuhan
sudah ditetapkan, tetaplah sudah
tak ada yang bisa merubah
dan takkan bisa berubah

relakanlah saja ini
bahwa semua yang terbaik
terbaik untuk kita semua
menyerahlah untuk menang

Kutipan tulisan di atas merupakan salah satu lirik lagu Dewa yang terdapat dalam album Laskar Cinta. Entah sejak kapan saya mulai menyukai lirik-liriknya dewa. Kalau dahulu lirik-lirik dewa lebih terpangaruh oleh karya-karya Kahlil Gibran, maka pada album Laskar Cinta ini, lirik-lirik dewa lebih kental dengan nuansa sufistiknya terlebih lagi terinspirasi dari sair-sairnya Jalaluddin Rumi, salah satu tokoh sufistik yang saya kagumi.

Bagiku, lirik di atas memiliki makna yang sangat dalam. Setidaknya, ia bisa menjadi motivasi bagi orang-orang yang dilanda kesedihan. Entah itu karena kehilangan orang yang sangat dicintai, gagal dalam mencapai cita-citanya, maupun kejadian-kejadian yang tidak enak yang sedang menimpanya. Setelah mencermati lirik di atas, saya teringat dengan firman Allah dalam Al-Qur'an yang berbunyi,

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demekian itu mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadîd: 22)

Segala sesuatu yang ada di bumi telah ditetapkan oleh Allah. Bencana, musibah, kecelakan, kematian semuanya telah digariskan oleh Allah. Jika memang sudah menjadi kehendak Allah, kita bisa apa? Kita hanyalah manusia. Manusia lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan takdir sang Raja manusia.

Saya teringat dengan sebuah kisah nyata yang ditulis Dr. Aidh al-Qarni dalam bukunya La Tahzan, beliau menceritakan sebuah kisah berikut ini.

"Ada seorang pemuda Damaskus yang sudah memesan tiket pesawat untuk bepergian ke luar kota. Ia memberitahukan kepada ibunya bahwa pesawat akan take off jam sekian, dan sang ibu harus membangunkannya jika waktunya sudah dekat. Kemudian pemuda ini tidur. Namun, ibunya mendengar tentang keadaan cuaca udara di TV yang memberitakan bahwa angin sangat kencang, cuaca udara sangat buruk dan di sana ada badai pasir yang mengamuk. Maka ibu tadi khawatir dan dicekam rasa takut atas keselamatan anaknya nanti. Oleh kerena itu, sang ibu tidak membangunkan anaknya demi keselamatannya dalam perjalanan. Sebab, cuaca tidak memungkinkan untuk bepergian serta takut bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ketika sang ibu yakin bahwa pesawatnya sudah take off, ia pun bergegas membangunkan anaknya. Namun, sang ibu mendapati anaknya sudah meninggal di atas kasurnya."

Inilah ajal. Jika ia telah menjadi ketentuan Allah, apa pun usaha yang akan dilaukan manusia tak akan sedikit pun bisa merubahnya. Kita tidak bisa menghindar dari berbagai bencana yang sudah direncanakan Allah, kita tidak bisa lari dari ketentuan-Nya, tidak bisa melawan-Nya dan yang kita bisa hanya menerimanya.

Saya katakan tadi bahwa kita hanya bisa menerima. Menerima di sini bukan asal "nrimo", tetapi menyadari dan meyakini bahwa semua itu memang sudah kehendak Allah. Dialah yang Kuasa menetepkan segala sesuatunya pada diri kita. Menerima di sini maksudya adalah mengembalikannya kepada Allah. Sebab, sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali lagi kepada Allah.

Jika kita sudah beriman dengan ketentuan Allah, maka kita tak perlu lai larut dalam kesedihan, penyesalan dan menyalahkan diri kita sendiri. Jika sudah demikian, kita akan tenang dalam menghadapi sesuatu, hidup dengan semangat, penuh optimisme, dan andaikan kita tidak bisa meraih apa yang kita inginkan, kita akan tetap tersenyum karena itu sudah bagian dari ketentuan Allah. Tetaplah tersenyum, meski dalam kesedihan dan yakinlah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita semua.

* dedicated to Miftah Fawaid, jangan larut dalam kesedihan, tetap tatap masa depan. Perjalanan hidup masih panjang, berikan selalu yang terbaik untuk Ibumu.

Diposting oleh Mesba Label:
Adakah yang lebih nikmat dari dekat dengan Allah, dicintai Allah, dan melakukan semua aktifitas hanya untuk Allah?
Bukankah Allah telah berfirman, "Bila ia mendekat kepadaku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa, Bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang menemuinya dengan berlari..."
Mengapa kita masih mencari yang lain?
Dia, Dia, hanya Dia "Huwa" yang tak terkata, tak terasa, tak tercipta, tak terperi walau oleh calung asmara.

Thanks to : Sinbad Caesar atas pencerahanya.
Diposting oleh Mesba Label:
"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka seseungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"

Adalah sifat manusia apabila ia kehilangan sesuatu, atau tidak mendapatkan sesuatu yang dikehendaki, atau saat mengalami kerugian, kebanyakan jiwa mereka terguncang. Akibatnya, mereka tak lagi memiliki gairah hidup atau tidak memiliki semangat untuk tetap berjuang menyelami kehidupan. Manusia seringkali lupa untuk mensyukuri nikmat yang dimilikinya serta tidak merenungi nikmat di balik kegagalan yang sedang dialaminya.

Allah Mahatahu atas segalanya, baik yang lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Dia tahu betul apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Sehingga, kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa sesungguhnya yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya adalah sesuatu yang dibutuhkannya, bukan yang diinginkannya.

Ayat di atas secara tidak langsung telah memberikan rahasia kepada kita agar hidup kian terasa damai dan tentram. Orang yang senantiasa bersyukur, ia tak akan pernah sedikit pun merasakan kegundahan dalam kehidupannya. Kendati pun ia miskin, serba kekurangan dalam hidupnya, namun apabila tetap bersyukur tentu hatinya tak akan pernah diliputi oleh kegalauhan ataupun kegundahan. Orang yang bersyukur senantiasa berprasangka baik terhadap segala ketentuan yang telah ditetapkan Allah baginya. Ia selalu berpikir bahwa Allah senantiasa sayang kepadanya. Sebab, menurutnya, Allah mengetahui kadar kekuatan yang dimilikinya apabila ia diberikan harta melimpah ia pasti akan melupakan-Nya dan cendrung lebih banyak melakukan kemaksiyatan. Karena itu, yang terbaik bagi hamba tersebut adalah tetap dijadikannya miskin agar senantiasa lebih banyak mengingat Allah. Lain halnya dengan orang yang tidak pernah bersyukur atas nikmat yang telah diperolehnya. Ia tidak akan pernah merasakan kedaimaian hidup. Yang ada hanyalah perasaan serba kekurangan dan terus menerus tamak mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Bahkan, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan segala yang diinginkannya meski dengan jalan yang tidak halal. Dan inilah salah satu rahasia nikmatnya bersyukur atas nikmat Allah.

Jika kita mencermati lagi ayat di atas maka akan kita dapati bahwa apabila kita mau bersyukur kepada Allah, niscaya Dia akan menambahkan nikmat kepada kita. Karena itu, kita seharusnya mensyukuri yang ada, mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan, meskipun menurut pandangan lahiriyah kita itu sedikit. Nikmat yang sedikit apabila kita terus bersyukur tentu Allah akan menambahkannya. Inilah janji Allah kepada kita. Dan sungguh sangat ironis, apabila nikmat yang sedkit itu tidak disyukuri. Sudah sedikit, tidak mau bersyukur pula. Alangkah bodohnya orang yang tidak pernah bersyukur kepada Allah.

Kebanyakan manusia memandang bahwa yang namanya nikmat itu adalah berupa materi yang banyak atau lebih idektik dengan rizki yang melimpah. Pandangan yang seperti ini adalah salah kaprah. Nikmat Allah itu tidak terbatas pada materi saja. Namun, lebih dari hal itu. Sebenarnya, apabila manusia mau merenung sebentar saja, tentu ia sadar betapa banyak nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, dan apabila ia hendak menyebutkannya, pasti ia tidak akan bisa. Allah swt. berfirman,

"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala yang kamu mohon kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung satu nikmat Allah saja, tidaklah kamu dapat menghitungnya..."
(QS. Ibrahim: 34)

Sejenak kita perhatikan lagi diksi yang dipakai Allah dalam ayat di atas. Jika kita membuka al-Quran surat Ibrahim ayat 34, maka disitu sebutkan kata ni'mat (bentuk tunggal = satu nikmat) bukan ni'am (bentuk plural = nikmat-nikmat yang banyak), sebab dalam satu nikmat saja terdapat nikmat-nikmat yang tak terhitung, bahkan dalam musibah pun terdapat nikmat yang banyak. Karena itu, nikmatilah hidupmu, tetap bersyukurlah atas apa yang ada pada dirimu. Niscaya kedamaian dan ketentraman akan selalu menaungimu. Sebab, kebahagian dan ketentraman jiwa atau kegelisaan dan kegundahan hati sebenarnya kita sendirilah yang membuatnya. Bukan alam, bukan orang lain, atau pun kejadian.
Diposting oleh Mesba Label:

Anugerah Allah swt. memang sungguh luar biasa. Tak henti-hentinya aku memanjatkan puji dan syukur kepada-Mu, ya Rabb. Dan memang seharusnya puji dan syukur selalu terpanjat untuk-Mu. Sebab, semua pujian hanya milik-Mu semata. Ah, entah mimpi apa aku dulu hingga aku bisa diperkenankan menginjakkan kakiku di negeri sebiru khayalan ini. Benar, negeri sebiru khayalan. Bagiku Mesir adalah negeri seribu khayalan. Karena banyak sekali kejadian-kejadian aneh dan menakjubkan yang aku temukan di sini. Kalau sebagian Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) ada yang mencerca dan mengeluhkan kehidupan di Mesir, itu wajar-wajar saja. Alasan mereka juga logis; banyak antrianlah, birokrasi yang nggak jelaslah, masyarakatnya egoislah, banyak kejahatanlah, dan lain sebagainya yang semua itu bisa membuat hati seseorang menjadi jengkel. Namun, di balik itu semua aku menemukan sisi-sisi unik dan menakjubkan di negeri ini. Sisi sisi janggal yang belum pernah aku dapatkan maupun aku dengar di negeri lainnya, bahkan di negeriku sendiri.

Seperti biasa, di sela-sela kesibukanku dengan naskah-naskah maupun buku-buku yang menumpuk, aku masih menyempatkan diriku untuk menimba ilmu. Tempatnya seperti biasa, di masjid Al-Azhar. Masjid kuno yang kental dengan nuansa sejarahnya. Aku menganggapnya sebagai rumahku yang kedua. Karena hampir setiap harinya aku di sini, baik untuk sekedar melepas lelah, belajar diktat, maupun mengikuti pengajian bersama masyayikh al-Azhar. Meski jarak masjid itu dengan rumah kontrakanku bisa dibilang sangat jauh ditambah lagi udara kairo yang tidak begitu bersahabat, namun itu tak menghalangi niatku untuk terus menuntut ilmu.

Beberapa hari yang lalu, seperti biasanya sehabis shalat Dhuhur di masjid Al-Azhar seringkali diadakan ceramah agama. Saat itu yang bertugas mengisi ceramah tersebut adalah Syeikh Musthafa Mahmud, seorang imam sekaligus khatib masjid Sulthan. Baliau adalah seorang yang alim dan tawadhu'. Ceramah yang disampaikannya pun sangat menarik dan menyentuh hati. Saat itu aku hanya bisa mengikuti ceramahnya beberapa menit saja. Sebab, di saat yang bersamaan pula aku mempunyai jadwal ngaji lesehan (talaqqi) al-Fiyyah ibnu Malik bersama DR. Fathi Hijazi, dosen bahasa Arab fakultas bahasa dan sastera Arab Universitas Al-Azhar. Kami beserta teman-teman lainnya yang berasal dari berbagai negara langsung membuat suatu halaqah (lingkaran) di pojok masjid Al-Azhar, sembari menunggu kehadiran DR. Fathi yang kebetulan beliau masih ada kesibukan di kuliah. Disaat kami sedang menunggu kehadiran guru kami tersebut, tiba-tiba muncul sosok laki-laki separuh baya memakai pakaian serba putih berjalan menuju halaqah kami. Aku tidak menyangka sebelumnya, ternyata laki-laki tersebut adalah Syeikh Musthafa, imam agung sekaligus khatib masjid Sulthan yang baru saja mengisi ceramah di masjid Al-Azhar. Tanpa basi-basi beliau langsung berbaur dengan kami. Beliau duduk lesehan seperti halnya para santri lainnya. Sungguh menakjubkan. Saat itu air mataku tak sempat aku bendung. Hanya kekaguman yang terus menerus menyelimuti diriku saat melihat sosok alim dan tawadhu' itu. Statusnya sebagai imam sekaligus khatib di masjid Sulthan, ditambah lagi sebagai penceramah di masjid Al-Azhar, tentu keilmuan beliau tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, pihak Al-Azhar tentunya tidak sembarangan memilih seseorang untuk mengisi ceramah di masjid itu. Meski demikian, semua itu tidak menghalangi niat beliau untuk tetap menuntut ilmu lagi. Ditambah lagi sikap tawadhu' beliau yang rela duduk-duduk lesehan bersama kami menunggu bersama kehadiran seorang syeikh yang akan mengajarkan ilmu kepada kami meski hanya untuk mendapatkan sedikit ilmu saja yang akan disampaikan. Dalam hati aku pun bertanya pada diriku sendiri, "Masih adakah sosok-sosok seseorang seperti beliau di negeriku? Orang yang alim dan tidak malu-malu untuk ikut duduk-duduk lesehan mendengarkan dars dari Syeikh (orang pintar) lainya. Ah, kalaupun ada pasti mereka lebih memilih berada di tempat yang khusus dan tidak mau duduk lesehan.

Aku bersyukur sebab tanpa disengaja aku telah diajarkan bagaiamana seorang pencari ilmu harus bersikap tawadhu'. Mungkin benar filosofi padi, semakin tua padi itu, maka semakin pula ia merunduk. Semakin banyak ilmu yang didapatkan oleh seseorang, maka ia semakin rendah hati. Mengapa bisa demikian? Sebab, semakin banyak seseorang mengetahui sesuatu, sebenernya ia akan semakin tahu betapa bodohnya dia di hadapan luasnya ilmu Tuhannya. Maka, tak heran jika ulama sekaliber Ibnu Athaillah as-Sakandary, dalam munajatnya seringkali beliau mengatakan,

Tuhanku, aku bodoh dalam tahuku,

Apatah lagi dalam bodohku?
Diposting oleh Mesba Label:
"Aku mengadu kepada imam Waki' tentang hafalanku yang lemah,
Lantas ia memberiku petunjuk agar meninggalkan kemaksiyatan.
Dia membertahuku bahwa ilmu itu cahaya
Dan cahaya Allah (hidayah) tidak diberikan kepada Sang Pendosa."
Sederhana namun penuh makna. Begitu kiranya penilaianku terhadap bait-bait syair imam Syafi'i di atas. Sebuah pengalaman pengembaran intelektual ulama sekaliber imam Syafi'i yang patut diteladani seorang penimba ilmu. Meninggalkan maksiyat. Dua kata yang memiliki peran signifikan dalam sukses tidaknya sesorang yang sedang berproses mencari ilmu. Aku dulu termasuk salah satu dari sekian orang yang meragukan teori imam Syafi'i ini, saat beberapa teman meyakinkanku dengan membawakanku beberapa bukti nyata. Sebut saja, ilmuan-ilmuan barat yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Atau, Snouk Hurgronje, salah seorang misionaris, dengan kebenciannya yang sangat terhadap Islam dan Al-Qur`an, toh nyatanya ia mampu dengan mudah menghafal Al-Qur`an. Namun keraguan itu sirna sudah saat kita mau mengkaji lebih lanjut korelasi antara hati dan ilmu, juga ilmu dan dosa.

Mari sejenak kita kembali ke masa lalu. Masa-masa SMP kita. Tentunya kita semua tidak melupakan pelajaran Fisika. Dahulu, kita pernah diajarkan tentang adanya daya tarik antara dua benda yang berbeda jenis. Daya tarik ini dalam kajian Fisika sering diistilahkan dengan kata Adhesi (kira-kira begitu namanya kalo nggak salah). Guru-guru SMP kita dulu menyontohkanya dengan cara menyuruh siswanya maju ke depan kelas untuk mengambil kapur lalu menuliskan beberapa bait kata di papan tulis. Apa yang terjadi? Pak guru lalu menjelaskan kepada siswa inilah yang disebut dengan daya Adhesi. Kapur dan papan tulis. Dua jenis benda yang berbeda namun ia dapat menyatu. Sebut saja ini permasalahan pertama.

Kita menuju ke permasalahan kedua. Bagaimana jika keadaannya tidak sebersih dengan keadaannya pada permasalahan pertama. Atau dengan kata lain, papan tulis atau kapurnya mulai diselimuti dengan benda-benda lain semisal debu, kerikil, dan lain sebagaimana. Dipastikan yang terjadi adalah kita akan mengalami kesulitan saat menuliskannya di papan tulis. Kalau pun bisa tentunya diperlukan sebuah usaha yang keras dan hasil tulisannya pun tak sebagus pada kondisi pertama. Goresan-goresan itu hanya meninggalkan bekas yang samar. Semakin banyak debu yang menempel di papan tulis maka tingkat kesulitan kita menuliskannya di papan tulis pun kian bertambah.

Namun, ada hal menarik lagi jika debu-debu itu semakin banyak dan mengeras lalu menutupi seluruh permukaan papan tulis. Kita tidak merasakan kesulitan saat menggoreskan kapur ke papan tulis seperti halnya yang terjadi pada kondisi kedua. Apa permasalahannya? Ternyata, sebenernya tulisan kita tidaklah menempel pada papan tulis, melainkan hanya melekat di atas tumpukan debu-debu yang telah membatu itu.

Kembali lagi kita mengupas bait-bait syair imam Syafi'i di atas. Ilmu, hati, dan kemaksiyatan. Bisa dikatakan, ilmu dan hati adalah contoh lain dari daya adhesi. Keduanya merupakan "dua benda" berbeda jenis yang bisa saling tarik menarik. Sama seperti kapur dan papan tulis, proses tarik menarik dua benda ini pun beragam. Kadang mudah, kadang pula susah. Jika hati kita dalam keadaan bersih, ilmu yang masuk pun akan semakin mudah menancap. Lain lagi ceritanya jika hati kita diselimuti oleh dosa-dosa. Mengapa bisa demikian? Betulkah dosa-dosa yang kita perbuat mampu menjelma menjadi debu-debu pada hati? Hingga ilmu yang akan digoreskan padanya pun terhalang.

Untuk menjawab pertanyaan ini, alangkah baiknya kita mengetahui hakikat dosa itu sendiri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Dosa adalah satu perbuatan yang selalu membuat resah di hati, dan timbul perasaan tidak enak jika perbuatan itu dilihat orang." Inilah yang deskripsikan Rasulullah. Keresahanan-keresahan inilah yang membuat hati tidak tenang sehingga berpengaruh dalam usaha masuknya ilmu kedalam hati. Jika memang demikian, maka teori imam Waqi' yang disampaikan kepada muridnya, Imam Syafi'i adalah benar. Tapi, bagaiamana dengan kisah Snaouk Hurgrounje yang tidak merasa kesulitan mengafalkan Al-Qur`an? Jawabnya simpel. Sebab ia tidak merasakan keresahan-keresahan atas tindakan maksiyat yang dilakukannya lantaran hatinya yang telah membatu. Sama persis seperti pada permasalahan ketiga yang telah aku singgung di depan. Dosa-dosa yang ia lakukan bak debu yang telah membatu. Karena terlalu banyak, tertumpuk sekian banyak, terjadi berulang-ulang hingga berkarat dan membatu. Hal ini seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadits berikut, "Jika seorang hamba berbuat dosa, maka dalam hatinya ada satu titik yang berwarna hitam. Apabila ia bertobat, mencabut dosanya dan mohon ampunan kepada allah, maka hatinya kembali bersih berkilau. Namun apabila dosanya bertambah, maka bertambah hitam pula hatinya sehingga seluruh hatinya menjadi kelam." Dosa yang dilakukan berulang-ulang bisa membuat hati sang empunya membatu karena telah tertutup titik-titik hitam. Wajar jika dalam kondisi ini proses belajar mengajar tidak mengalami hambatan atau "sepintas" normal. Dikatakan sepintas, sebab kenyataannya ilmu-ilmu yang didapat hanya melekat pada tumpukan titik-titik hitam yang menutupi permukaan hati, dan bukan pada hati. Karenanya, janganlah heran jika orang-orang seperti ini tidak tercerahkan dengan ilmu-ilmu yang mereka dapat. Atau dengan kata lain, semua ilmu yang dipelajari tidaklah berpengaruh pada kehidupannya. Lain halnya dengan mereka yang menuntut ilmu dengan hati yang bersih tanpa terkontaminasi dengan dosa. Proses terjadinya pun semakin mudah dan ilmu yang di dapat mampu mempengaruhi tingkah lakunya sehari-hari. Ibarat filosopi padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Semakin banyak ilmu, ianya semakin takut pada Sang Maha Mencipta. Dan ilmu yang didapat pun mampu mengarahkannya kepada keimanan. Bukan saja pada saat melekat di hati, melainkan ketika pertama kali mendengarkannya. Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."
Diposting oleh Mesba Label:
Udara Kairo pagi ini lebih dingin dari biasanya. Sekitar 13 derajat celcius. Lumayan dingin untuk ukuran anak pesisir seperti aku ini yang terbiasa dengan hawa panas. Dengan sedikit asa dan serpihan harapan-harapan yang tersisa, aku putuskan keluar rumah untuk pergi ke kuliah. Berharap di sana aku mendapat kabar terbaru tentang perkuliahan, terlebih kabar-kabar yang berkaitan dengan ujian. Seperti biasa, di saat-saat menjelang ujian seperti ini, informasi-informasi dari bangku perkuliahan sangat membantuku dalam menghadapi ujian. Maklum, sudah beberapa hari ini aku tidak pernah melangkahkan kakiku ke luar rumah dan cenderung lebih suka menghabiskan waktuku berlama-lama di depan monitor. Menunaikan amanat sekaligus mencari penghasilan. Sekedar untuk bertahan hidup dan membayar sewa kontrakan.

Tepat jam 09 pagi waktu Kairo aku keluar rumah. Namun, mungkin ini bukan hariku. Bus 80 coret yang biasa mengantarkanku ke kuliah terlihat meluncur deras di hadapanku tanpa sempat kukejar. Artinya, aku harus menunggu lagi sekitar 15-30 menitan kedepan untuk menanti datangnya 80 coret yang lain. Setibanya di kuliah, agar tidak menghabiskan banyak waktu, aku percepat langkahku menuju kampusku tercinta, Al-Azhar University. Universitas Islam tertua di dunia. Lagi-lagi, sialnya aku hari ini. Setibanya di sana, kelasku kosong. Selesai sudah harapanku. Bangku-bangku kuliah sudah tertata rapi, hanya ada satu atau dua orang Mesir saja yang masih duduk-duduk menunggu datangnya dosen. Kupikir-pikir, mungkin "muhadharah" sudah selesai. Dan aku harus cepat-cepat pulang membaca diktat dan mengejar ketertinggalanku selama ini.

Udara dingin itu serasa hilang seketika saat aku mulai menyandarkan bahuku di atas jok kursi bus 80 coret yang hendak membawaku pulang. Kali ini, suasana dalam bus nampak terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sangat tenang dan nyaman. Aku serasa tersihir oleh lantunan indah ayat-ayat Al-Qur'an yang aku sendiri belum begitu mengenal siapa pelantunnya. Sungguh mengagumkan. Biasanya, di dalam kamar, aku lebih sering mendengarkan murattalnya imam Ghamidzi, Misyari Rasyid, Hani ar-Rifa'i, Yasir Salamah, dan satu lagi, Abdurrahman Sudaisy yang setidaknya mampu membantuku dalam muraja'ah hafalan Al-Qur`an. Kali ini bacaannya lain. Tanpa kusadari bibirku bergerak-gerak mengikuti lantunan bacaan Syeikh tadi. Kebetulan aku hafal benar surat yang dibacanya. Surat Al-Baqarah. Surat yang sempat aku hafalkan saat aku masih duduk di bangku SMA. Tidak hanya kejadian itu. Aku juga dikejutkan dengan anak kecil berumuran sekitar 12 tahunan berkebangsaan Tan. Entah itu ia berasal dari Uzbekistan, Tajikistan, atau Tan-tan yang lain. Mengagumkan. Anak sekecil itu semangat sekali menghafalkan "nazham" (bait-bait) matan Syathibiyyah. Salah satu kitab yang sangat terkenal yang membahas bacaan al-Qur`an. Kitab yang dikarang oleh imam Syathibi ini berisi tentang Qira'ah Sab'ah (tujuh bacaan Al-Qur`an yang mutawatir). Dulu, aku sempat mengkaji kitab itu bersama Dr. Hani Abdul Mukmin, di Madziyafah. Sebuah tempat kecil di bilangan Husein di depan gerbang kampus Al-Azhar. Pengajarnya kebanyakan dari ulama-ulama Azhar. Itu pun tak berlangsung lama. Aku malu dengan diriku sendiri. Seakaan-akan, aku mendapat pukulan telak dari anak kecil itu. Di usiaku yang ke-22 ini, aku masih merasa belum memiliki apa-apa. Parahnya lagi, aku sekarang sedang duduk di tingkat akhir dan sebentar lagi selesai -biidznillah- kemudian pulang ke tanah air. Lantas, apa yang bisa aku berikan kepada masyarakatku nanti? Ah, tak ada gunanya menyesal sekarang. Kubuang jauh-jauh penyesalan itu. Lalu aku mencoba mentadabburi lantunan ayat Al-Qur`an yang sempat kudengar tadi. Surat Al-Baqarah. Surat kedua dalam urutan mushaf Al-Qur`an. Aku teringat, dalam surat Al-Baqarah itu dijelaskan tiga macam golongan manusia, yaitu: Mukmin, Munafik, dan Kafir, yang semuanya memiliki karakter yang berbeda-beda. Aku berusaha menariknya ke dalam kehidupan kita sekarang ini, sekaligus meringkasnya menjadi dua. Manusia yang berhati baik, dan satunya berhati buruk. Aku pun teringat dengan fenomena kehidupan yang sedang kita jalani. Kataku, sungguh sengsara mereka yang berharap surga Firdaus, tidak ada yang bohong, menipu, dan berbuat zalim. Sungguh kasihan orang yang beraharap melihat umat manusia berubah menjadi para malaikat, saling mengasihi, hanya mengenal perasaan halus dan berbuat baik. Aku sadar, kehidupan yang kita jalani ini sangat beraneka ragam dan manusia yang ada di dalamnya pun sangat heterogen. Sebagian ada yang suka berbuat baik, seperti makhluk yang sangat lemah lembut, dan ada pula yang kekejamamnya melebihi srigala dan ular saat ia berkhianat dan menyakiti orang lain. Sejak kedengkian menggerakkan Kabil untuk membunuh Habil, dunia mulai penuh dengan warna-warni, kebaikan dan kejahatan, penindasaan dan kekuasaan, cinta dan dengki, aman dan cemas.

Mungkin, peran yang harus kita lakukan adalah menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat perjuangan, cita-cita tanggap dan tentunya realistis. Selanjutnya, kita harus menjalani kehidupai ini dengan serba positif dan menuntut adanya perubahan. Jangan sampai kita terperangkap dalam jurang-jurang kesalahan dan lembah-lembah kekurangan. Pikirku, jika kita sudah saling mencintai dan berbuat baik, niscaya nikmat luar biasa akan kita dapatkan dan itu harus kita syukuri. Akan tetapi, jika yang kita dapatkan tidak seperti yang diinginkan, maka inilah konsekuensi yang harus kita pikul bersama, yaitu sebuah bencana yang menuntut kesabaran. Dan dengan kesabaran itulah, kita akan mendapatkan pahala.

Berkenaan dengan hal itu, aku mencoba menyimpulkan bahwa kehidupan bukan hanyalah hutan belantara yang menjadi tempat serigala-serigala liar mencari mangsa. Aku yakin, bahwa di belakang kebenaran, banyak tokoh-tokoh yang berdiri dengan gagah di manapun dan kapanpun serta tangan-tangan yang akan mengulurkan kebaikan pun sangat banyak. Akan tetapi, sebelum berjumpa dengan mereka, sudah selazimnya bagi kita semua untuk membiasakan diri dalam menghadapi orang lain, sehingga kita tidak akan tersakiti, mudah menyerah dan menghabiskan usia hanya dengan menggigit jari, selain juga harus senantiasa mempersiapkan kehidupan setelah mati nanti. Aku teringat sebuah pesan singkat dari Mushtafa Shadiq ar-Rafi'i, seorang sastrawan berkebangsaan Mesir keturunan Libanon yang juga penulis kitab Wahyu al-Qalam (Sabda Pena) dan I'jaz al-Qur'an wa Balaghah as-Sunnah an-Nabawiyyah, beliau pernah mengatakan, “Sebagaimana kelompok penjahat akan merugikan orang-orang saleh saat melakukan kejahatan, orang-orang saleh pun akan merugikan yang lain jika tidak beramal saleh.”

Upz, bus yang kutumpangi sudah sampai di Mahattah Akhir Hay Asyir. Tandanya, aku harus turun dan kembali lagi ke rumah. Mungkin inilah sekelumit hikmah yang aku dapatkan hari ini. Sebuah khayalan yang terinsipasi dari bacaan Al-Qur`an. Sungguh, Al-Qur`an merupakan sumber hikmah yang tak akan pernah surut.

Bengkel Terjemah cab. Madrasah, 23 Desember 2008
Diposting oleh Mesba Label:
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates